Rumah Perkara menceritakan Yatna (Teuku Rifnu Wikana), lurah, setuju menjual tanahnya kepada Jaya (Icang S. Tisnamiharja), seorang kontraktor. Halangannya adalah Ella (Ranggani Puspandya), janda yang tidak rela tanahnya dibeli. Terjadilah usaha-usaha, baik dari Yatna maupun anak buah Jaya, untuk mengubah niatan Ella.[1]
Aku Padamu menceritakan Vano (Nicholas Saputra) dan Laras (Revalina S Termat) ingin menikah di luar sepengetahuan keluarganya. Sayangnya, tanpa kartu keluarga niat mereka urung terwujud. Seorang calo menawarkan jalan pintas, yang menciptakan dilema tersendiri di pasangan muda-mudi ini.[1]
Selamat Siang, Risa! menceritakan Arwoko (Tora Sudiro) berusaha hidup dan kerja secara jujur, walau teman-teman sejawatnya banyak melakukan korupsi. Tantangan muncul dalam wujud segepok uang pelicin, tepat ketika keluarganya terlilit kesulitan ekonomi.[1]
Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa menceritakan Ola (Siska Selvi Dawsen) membeli buku pada Eci (Nasha Abigail) dengan harga yang cukup mahal. Gita (Alexandra Natasha) pun jadi penasaran, kenapa harga buku yang dijual Eci lebih mahal dari pada yang dijual di toko buku. Gita lalu iseng-iseng bertanya tentang asal muasal harga buku tersebut. Tak diduga hasil iseng-iseng tersebut malah membongkar adanya praktek korupsi beruntun yang dilakukan oleh banyak pihak.[1]
Tampak dari luar, Rico adalah seorang pemuda tampan yang sopan dan baik. tetapi ia sebenarnya seorang hyper sex. Kelainannya itu membuat dia menjadi seorang playboy selama berbulan-bulan hingga akhirnya tidak satu pun gadis mendekatinya dan membuatnya stress dan memakai obat terlarang hingga tewas.
Di sebuah kota kecil di Bogor, Marsya, gadis yang terkenal karena kecantikan dan keseksiannya membuat banyak orang ingin memilikinya. Tetapi di ulang tahunnya yang ke-22, ia harus kehilangan orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan. Ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta meskipun Marsya tidak mempunyai sanak saudara di sana. Ia pun menetap di sebuah kos-kosan yang lumayan bagus dan harganya tidak terlalu mahal. Tetapi suasana dalam kos tersebut masih sepi karena dari 15 kamar hanya 5 kamar yang terisi. Setelah tiga hari Marsya menempati kamar kos-nya, ia selalu merasa ada yang mengganggunya. Marsya mendapat pekerjaan sebagai sekretaris pribadi Raymond, general manager perusahaan tersebut yang tertarik padanya. Andre, asisten manager di perusahaan itu juga tertarik pada Marsya.
Dua bulan sudah Marsya bekerja di sana dan selama 2 bulan itu juga ia makin dekat dengan Andre. Mereka menutupi hubungan mereka di depan Raymond. Marsya memberanikan diri menceritakan kepada Andre kalau ia telah diperkosa oleh setan, tetapi Andre tidak mempercayainya. Sementara kejadian-kejadian aneh terus menghantui Marsya.[1]
Sebuah film dengan judul agak saru dan tidak masuk logika, yaitu , telah selesai diproduksi oleh rumah produksi K2K dan rencananya siap diluncurkan ke seluruh bioskop yang ditunjuk tepat pada tanggal 4 Februari tahun 2010.
PLOT:
Hantu yang dikisahkan dalam film ini bercokol di sebuah rumah mewah dan besar di daerah wisata Puncak. Asal-usul hantu tersebut adalah arwah anak si pemilik rumah yang hendak diperkosa oleh kekasihnya sendiri.
Dikisahkan, anak pemilik rumah yang bernama Putri memiliki pacar yang bermoral bejad dan tak patut ditiru. Lelaki itu hendak melampiaskan hawa nafsunya kepada Putri saat sedang berkunjung ke rumah yang ternyata adalah sebuah vila tersebut.
Terjadilah adegan tolak-menolak dan kejar-kejaran, serta berakhir dengan pemukulan yang dilakukan oleh pacar Putri pada sang gadis. Putri pemilik rumah itu pun meninggal seketika, sedangkan si pacar yang menyesal. Dengan anehnya pun si pacar meninggal tiba-tiba sebab secara tidak sengaja terkena strum.
Itulah asal-mula munculnya gangguan hantu di rumah besar tersebut. Rumah besar itu lantas dijual oleh pemiliknya sebab ia sering teringat pada kejadian tragis yang menimpa putrinya. Di tangan pemiliknya yang baru, rumah besar itu tidak lantas menjadi aman dan bebas hantu. Malah sang hantu yang ternyata ada 2, makin menjadi-jadi menggoda para penghuninya. Hal itu karena rumah itu kini dijadikan tempat kost yang berisi sekumpulan muda-mudi yang cantik dan tampan.
Mereka bergantian didatangi dan digoda oleh sang hantu mesum yang digambarkan dengan salah satunya sedang datang bulan itu (menjijikkan). Mulailah berbagai adegan panas antara 2 anak manusia berbeda jenis, maksudnya jenis manusia dan hantu bertebaran dalam Film Hantu Puncak Datang Bulan ini. Bahkan saking panasnya, para pemain dalam film tersebut seperti Andi Soraya, Trio Macan, serta Tesa Mariska rela membuka busana mereka yang sebenarnya sudah cukup minim di film tersebut. Mereka berani tampil topless alias buka-bukaan bagian atas tanpa malu dan ragu.
Seperti biasanya juga dalam berbagai film hantu khas Indonesia, tentu ada adegan ritual pengusiran si hantu pengganggu. Demikian juga dalam Film Hantu Puncak Datang Bulan ini. Adegan pengusiran hantu oleh orang-orang yang dikatakan sebagai orang pintar tersebut terlihat sangat lucu. Hantu yang bergentayangan itu diusir menggunakan berbagai ritual klenik. Sayangnya, si hantu ternyata lebih kuat dan pintar dan terlalu bandel hingga ogah meninggalkan rumah besar tersebut.
Sang Pencerah adalah film drama tahun 2010 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo berdasarkan kisah nyata tentang pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan, Ihsan Idol sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan.Film ini menjadikan sejarah sebagai pelajaran pada masa kini tentang toleransi, koeksistensi (bekerjasama dengan yang berbeda keyakinan), kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang.[1] Sang Pencerah mengungkapkan sosok pahlawan nasional itu dari sisi yang tidak banyak diketahui publik. Selain mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah, lelaki tegas pendirian itu juga dimunculkan sebagai pembaharu Islam di Indonesia. Ia memperkenalkan wajah Islam yang modern, terbuka, serta rasional.[2] Versi novel kisah ini ditulis oleh wartawan-sastrawan Akmal Nasery Basral, dan mendapat predikat Fiksi Terbaik Islamic Book Fair Award 2011.[rujukan?]
PLOT:
Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Muhammad Ihsan Tarore) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah.
Dengan sebuah kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menghadap ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke Afrika. Usul itu kontan membuat para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), meradang. Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau.
Walaupun usul perubahan arah kiblat ini ditolak, melalui suraunya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah. Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.
Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah. Dalam khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman, Yogyakarta. "Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen," katanya. Walhasil, Dahlan dimusuhi.
Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat[3].
Dahlan, yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Ganesha), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adhiswara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.[4]
Sang Pemimpi adalah novel kedua dalam tetralogiLaskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Juli2006. Dalam novel ini, Andrea mengeksplorasi hubungan persahabatan antara Ikal dan Arai serta kekuatan mimpi mereka yang dapat membawa dua anak kampung dari Belitong ini bersekolah di Perancis.
PLOT:
Dalam novel Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupannya di Belitong pada masa SMA. Tiga tokoh utama dalam karya ini adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal tidak lain adalah Andrea Hirata sendiri, sedangkan Arai adalah saudara jauhnya yang menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Arai disebut simpai keramat karena dalam keluarganya ia adalah orang terakhir yang masih hidup dan ia pun diangkat menjadi anak oleh ayah Ikal. Jimbron merupakan teman Arai dan Ikal yang sangat terobsesi dengan kuda dan gagap bila sedang antusias terhadap sesuatu atau ketika gugup. Ketiganya melewati kisah persahabatan yang terjalin dari kecil hingga mereka bersekolah di SMA Negeri Manggar, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur.
Demi memenuhi kebutuhan hidup, Ikal dan Arai harus bekerja sebagai kuli di pelabuhan ikan pada dini hari dan pergi ke sekolah setelahnya. Namun begitu, mereka tetap gigih belajar sehingga selalu berada dalam peringkat lima teratas dari 160 murid di sekolahnya. Sekolah mereka merupakan SMA negeri pertama yang bergengsi di Belitong, sebelumnya satu-satunya SMA yang terdekat berada di Tanjung Pandan. Sekolah tersebut berada 30 kilometer dari rumah Ikal dan Arai sehingga mereka harus menyewa kamar dan hidup jauh dari orang tua.
Selama masa SMA, banyak kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh Arai dan Ikal. Mereka pernah mengejek Pak Mustar saat upacara bendera di pagi hari sehingga Pak Mustar marah dan mengejar mereka. Mereka juga pernah menyusup ke bioskop yang tidak mengizinkan anak sekolah masuk untuk menonton film dewasa. Pak Mustar mengetahui hal tersebut sehingga Arai dan Ikal diberi hukuman keesokan harinya.
Pada akhirnya, Jimbron harus berpisah dengan Ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah di Jakarta.
Selama di Jakarta, mereka luntang-lantung mencari pekerjaan namun akhirnya Ikal menjadi pegawai pos dan Arai pergi ke Kalimantan untuk bekerja sambil kuliah. Ikal berhasil membiayai kuliahnya di Universitas Indonesia hingga menjadi Sarjana Ekonomi, sedangkan Arai belajar biologi di Kalimantan. Hidup mandiri terpisah dari orang tua dengan latar belakang kondisi ekonomi yang sangat terbatas namun punya cita-cita besar, sebuah cita-cita yang bila dilihat dari latar belakang kehidupan mereka, hanyalah sebuah mimpi.
Gilang (Gading Marten), Daud (Dwi Sasono) dan Anissa (Renata Kusmanto) sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bertiga datang dari latar belakang yang berbeda. Satu cinta-cita Anissa yang dijanjikan untuk dipenuhi oleh kedua 'kakak' nya adalah, ingin berkeliling dunia Waktu berlalu dan mereka beranjak remaja. Daud dan Gilang pun mulai menyadari bahwa perasaan sayang mereka kepada Anissa telah berubah menjadi cinta yang mendalam. Keduanya menyatakan cinta kepada sang gadis di saat yang hampir bersamaan. Anissa pun bingung, dia sama-sama mencintai kedua sahabatnya dan tidak mau pertemanan mereka retak. Akhirnya Anissa pun mempunyai ide untuk 'menyelamatkan' persahabatan itu. Anissa mengajukan syarat, barangsiapa yang bisa pertama kali mengajaknya berkeliling dunia, akan diterima sebagai kekasihnya.
Ini menjadi motivasi untuk Gilang dan Daud. Selepas SLTA keduanya pun berpisah. Gilang melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia-Curug, sedangkan Daud diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Merunda. Diam-diam mereka tetap berharap dengan profesinya nanti dapat mewujudkan keinginan Anissa.
Sampai akhirnya Anissa harus menyampaikan sebuah rahasia kepada keduanya. Bahwa rupanya, cita-cita Anissa mungkin tidak akan bisa tercapai bila tidak dilaksanakan secepatnya. Karna si gadis baru divonis memiliki penyakit kelainan jantung yang dapat berakibat fatal.[1]
Film ini menceritakan kisah cinta antara Canting dan Raga, dua orang yang sangat berbeda sifat, latar belakang dan dunia, namun dipertemukan oleh berbagai keadaan unik yang membuat mereka berdua akhirnya saling jatuh cinta. Widya, sahabat Canting menggelar pernikahannya di Bali. Namun acara itu jadi berantakan akibat ulah Raga yang membuat Tomtom, sahabatnya sekaligus sang mempelai pria, gagal hadir di acara pernikahannya sendiri. Canting pun bertekad menyatukan kembali hubungan cinta Tomtom dan Widya. Sementara Raga bertekad membubarkan hubungan Tomtom dan Widya.
Perseteruan Canting dan Raga membuat keduanya terjebak dalam berbagai kekonyolan dan aksi sabotase, yang puncaknya malah membuat mereka terdampar berdua di sebuah daerah asing dan terpencil. Saat mereka sedang berdua saja itulah benih-benih cinta mulai tumbuh, terlebih saat keduanya menghabiskan malam di sebuah perahu nelayan di pinggir pantai karena mereka tak kunjung menemukan penginapan atau angkutan yang bisa membawa mereka pulang. Sayangnya saat benih cinta mulai tumbuh di hati Raga dan Canting, sebelumnya Canting telah menyetujui permintaan ayahnya, Prasetyo, untuk menikah dengan Bimo, anak seorang sahabatnya.
Namun ternyata Raga belum mau menyerah begitu saja. Raga berusaha mendapat kesempatan berbicara empat mata dengan ayah Canting untuk meminta restunya agar diperbolehkan menjadi pendamping hidup Canting. Namun rupanya rencana Raga itu tidak berjalan mudah.[1]
Alisha (Ladya Cheryl) adalah seorang wanita berumur 20 tahun yang mempunyai dunianya sendiri dibalik rumah mewah milik ayahnya (Soultan Saladin) yang sepi. Alisha hanya berinteraksi secara formal dengan pengurus rumah Bu Tuti (Rina Hassim), dan sopir sekaligus penjaga pribadi Alisha, Pak Bambang (Egi Fedly). Alisha adalah seorang wanita muda yang menderita tekanan mental akibat masa kecilnya yang terguncang, yaitu saat Alisha menyaksikan Ibu kandungnya (Inong) bunuh diri dengan pistol milik ayahnya yang sebenarnya mau digunakan untuk membunuh istrinya tersebut demi wanita lain. Keahlian Alisha dalam bermain cello menjadi pengusir sepi dan hiburan. Pada suatu hari, seorang pria bernama Bari (Donny Alamsyah) menggantikan seorang pekerja untuk membersihkan kolam renang rumah Alisha. Alisha lambat laun menjadi terobsesi dengan Bari yang dikiranya menyukai patung kelinci kecil seperti dirinya. Saat Bari tidak bekerja, Alisha pergi ke Blok S dan melihat Bari disana. Alisha mengikuti Bari sampai ke sebuah rumah susun. Diketahuilah Bari tinggal di rumah susun, bersama pacarnya Renta (Kinaryosih), mereka tinggal disebelah kamar yang kosong. Selama semalam, Alisha merenungkan, dan memutuskan untuk pindah diam-diam ke kamar yang kosong itu. Esoknya rencana Alisha dengan menipu Pak Bambang berhasil dan Alisha membawa koper dan cellonya pergi.
Kehidupan Alisha di rumah susun dimulai dengan menggunakan nama samarannya, Mia. Perkenalannya dengan Bari dan Renta membuat bibit persahabatan muncul, setiap malam Alisha mendengar suara lenguhan, cinta, marah, dan senang dari kamar Bari dan Renta. Di sebuah kesempatan, Alisha berbicara kepada Bari mengenai tulisan-tulisan Bari. Bari mengatakan sumber inspirasi tulisan-tulisannya berasal dari rumah susun yang karakter penghuninya macam-macam. Namun, tulisannya belum sempat selesai karena bingung akan akhir ceritanya. Disitulah Alisha mulai mengaburkan batas antara realita dan fiksi. Alisha berniat mengakhiri ketiga kisah, dimulai dari kisah pasangan gay sekaligus ayah-anak, Rudi dan Dani. Setelah Alisha masuk ke kamar Dani untuk membantu tugas kuliah, Alisha melihat nomor telepon ibu Dani, mencatatnya, dan menelepon sang ibu untuk memberitahu keberadaan Rudi dan Dani. Lalu, saat jumat malam ada pesta, Alisha datang kesana dan melihat sendiri akhir kisahnya, sang ibu menembak mati Rudi, membenarkan anggapan Bari.
Alisha yang masih shock, ditenangkan oleh Bari dan mereka berhubungan seks. Setelah beberapa malam mereka melakukannya, Alisha kini bernait mengakhiri cerita kedua, cerita Bu Dirah. Lubang tempat sampah di lantai Bu Dirah Alisha kunci, membuat Bu Dirah harus kebawah, kemudian Alisha membuka pintu kamar Bu Dirah, mengambil kucing-kucing yang dimasukkan ke dalam kotak kardus, membuka kunci lubang tempat sampah dan membuang mereka semua. Lalu saat Alisha berbelanja sebentar dan kembali, Bari mengatakan bahwa Bu Dirah meloncat dari lantainya.
Kali ini, Bari mulai mencurigai Alishalah yang harus bertanggung jawab. Namun, pembicaraannya dengan Renta mengenai hal itu didasari tanpa bukti. Pada suatu hari, ketika Bari tengah bertengkar dengan Renta akibat Alisha dan keluar, sekmbalinya ia ke unitnya, menemukan Renta telah pergi dan komputernya berisi sebuah pesan kepadanya untuk menyelesaikan cerita-ceritanya. Saat Bari pergi sementara, Alisha membawa kunci unit milik Renta dan memasuki kamar Bari, lalu melihat tulisan Bari mengenai si lansia yang beberapa waktu lalu Alisha dorong jatuh dari beranda lantai tujuh. Dari ingatan Alisha, Alishalah yang memukul Renta di lantai sembilan dengan alasan ada yang perlu dibicarakan. Alisha mengikat Renta di lantai sembilan setelah menyekapnya. Alisha juga telah menuliskan pesan di komputer. Lalu, Alisha menyelinap lagi ke kamar Bari untuk membaca tulisan Bari, mengenai diri Alisha sendiri. Tiba-tiba Bari datang dan melihat kunci Mia, Bari mencarinya hingga sampai ke lantai sembilan, dan menemukan Renta tersekap.
Renta ditemukan dan Bari segera menolongnya dengan bantuan beberapa orang. Di lantai paling atas itu, Alisha sudah berada di sana dan berjalan menuju balkon, dan melompat dari sana. Alishapun mengakhiri hidupnya bersamaan dengan mengakhiri kisah Alisha, Bari, dan Renta. Film diakhiri dengan Bari dan Renta yang melewati sebuah etalase toko buku dimana disitu ada sebuah buku berjudul "Fiksi", kumpulan cerita karya Bari yang kini sudah terselesaikan.
Topan (Adipati Koesmadji) dan Raka (Samuel Zylgwyn) adalah dua sahabat. Topan mempunyai kekasih bernama Chanisa (Stevani Nepa) yang ternyata menderita kanker paru-paru. Sementara Raka terus mendekati sahabat Chanisa, Helen (Leylarey Lesesne) untuk dijadikan pacarnya. Kehidupan percintaan Topan diganggu terus oleh mantan pacar Topan, Nayla (Arumi Bachsin) sejak mereka berdua putus, termasuk hubungan Topan dengan Chanisa. Dirumahnya, Topan mempunyai seorang ibu bernama Retno (Wulan Guritno) yang kerap bermasturbasi karena sosok suaminya yang sibuk dan tidak peduli akan dirinya, Hilman (Arie Sudarsono). Perlahan, berkat ajakan Chanisa dan Topan, Raka dan Helen akhirnya pacaran. Chanisa diberikan sebuah boks dari seseorang yang ternyata isinya foto-foto Nayla dan Topan. Chanisa meminta Topan agar Topan menjauhkan dirinya dari Nayla. Topan datang ke rumah Nayla, Nayla sangat ingin menjadi pacar Topan lagi, bahkan untuk itu, Nayla nekat memotong urat nadinya sendiri, untungnya hal itu dapat diobati oleh Topan.
Suatu hari, Helen menemukan Chanisa batuk darah lagi. Helen segera menelepon Topan dan Topan membawa Chanisa ke rumah sakit. Ternyata diagnosa kanker paru-parunya sangat lama dan membutuhkan banyak biaya karena Chanisa harus dirawat inap. Raka beritikad membantu biaya tersebut dengan meminjam uang ke sebuah geng rentenir dimana Rommy (Rangga Djoned) menjadi salah satu anggota yang sering berinteraksi dengan Raka. Raka dipinjamkan uang dalam batas waktu seminggu. Raka tidak mampu membayar, tapi mengulur waktu lagi. Raka berusaha meminjam uang kepada kakaknya yang menjadi simpanan pria-pria kaya. Namun kakaknya sedang tidak punya uang. Sementara Topan merawat Chanisa dengan motivasi, dan menjadi serba salah saat diberitahu mengenai tenggat waktu dan ancaman dari geng rentenir itu. Nayla mendatangi Chanisa dan memberikannya uang untuk biaya berobat. Nayla sudah rela melepaskan Topan untuk Chanisa.
Sesuatu mulai terjadi. Topan mengetahui bahwa teman cowoknya sendiri berpacaran dengan Hilman, hal itu diketahui Retno sebenarnya, cuma ia lebih suka diam saja. Selain itu, Helen diculik dan diperkosa oleh geng Rommy. Raka berusaha membahagiakan Helen yang trauma, tetapi tetap tegar. Raka mendatangi anggota rentenir itu dan malah dikeroyok dan disekap. Topan mencari pistol milik Raka dan mengambilnya, lalu mendatangi geng itu yang tengah berkumpul bersama pemimpinnya. Saat Topan dihajar, Topan meninggalkan pistolnya diatas sementara ia dijatuhkan ke tanah oleh geng itu. Raka mengambilnya dan mencoba mengeroyok anggota geng itu kendati jumlahnya tidak seimbang. Ia sampai ke bawah jalan dan ditembak. Para polisi kemudian datang atas laporan Helen dan Chanisa. Chanisa pergi ke Topan yang ternyata masih hidup, namun sekarat. Sementara Raka meninggal dalam pelukan Chanisa.[1]
Bujang dan James, serta Mentil, menuju kota besar untuk menjemput kawan mereka, Santo. Mereka adalah teman seperguruan bela diri yang diasuh oleh ayah Santo.
Sesampai di kota, mereka bertemu Santo dirumah kontrakannya bersama Chika dan Wendi. Santo senang bertemu dengan kawan-kawannya namun ia menolak pulang dengan alasan, ia akan pulang jika sudah kaya raya, tinggal dirumah milik sendiri. Ternyata Santo juga sedang dikutuk, tiap selepas magrib ia berubah menjadi banci yang bernama Santi. Teman-temannya merasa prihatin dengan kondisi Santo.
Suatu ketika, Santo mendapat wangsit tentang makam keramat China yang menyimpan banyak harta karun. Saat mereka menemukan peti mati yang dimaksud dan berhasil mengambil harta dalam peti mati. Ketika mereka mengambilnya, makhluk gaib pun bermunculan. Santo dan teman-temannya pun di teror.
Saat kejadian-kejadian aneh mengganggu ketenangan mereka, salah satu pocong mengaku bernama Pocong Ajun, mengingatkan mereka agar mengembalikan uang atau harta curian dari makam keramat China itu. Sang Vampire China marah lantaran hartanya dirampok oleh manusia, tapi Santo cs tidak memperdulikannya.
Persoalan bertambah saat Chika diculik oleh sekelompok penjahat yang juga menginginkan harta karun tersebut. James yang diam-diam suka pada Chika berniat menyelamatkan Chika. Bersama Santo, Bujang dan Mentil, mereka berniat mengembalikan harta karun tersebut ketempat semula. Mereka pun menuju sarang penjahat, tapi mereka tidaklah sendirian. Mereka mendapatkan bantuan dari pihak yang tidak mereka duga sebelumnya.[1]
Reno (Dimas Aditya), Mischa (Thalita Latief), dan Jessica (Mentari) adalah tiga sahabat yang selalu bersama sejak SMA. Reno dan Mischa yang berpacaran, melakukan tindakan diluar batas hingga Mischa hamil. Reno berusaha mempertanggungjawabkan hal itu, tetapi Mischa berkehendak lain. Jessica yang tidak mengetahui kehamilan Mischa mengantar Mischa ke sebuah klinik yang mempunyai dokter kandungan (Robby Tumewu). Ia menyarankan Mischa untuk pergi ke sebuah klinik kandungan yang lebih mumpuni dibandingkan klinik lain. Mischapun pergi kesana sendiri dan diaborsi. Namun pengaborsiannya tidak steril dan mengakibatkan ia ambruk beberapa hari kemudian di apartemennya. Jessica yang kebetulan mencarinya, mendobrak pintu dan menemukan Mischa, lalu segera membawanya ke rumah sakit. Namun Mischa meninggal di tengah pemeriksaan. Saat pemakamannya, Jessica bertemu Reno, Jessica yang tidak menerima penjelasan apapun dari Reno pergi dan menjauh darinya untuk selamanya.
5 tahun kemudian. Jessica telah menjadi wanita karier di kantor yang mengurusi bidang periklanan. Ia mengurusi pertemuan dengan fotografer, yang ketika ditemui, ternyata adalah Reno. Reno memberikan pengertian bahwa ia tidak menyuruh Mischa menggugurkan kandungannya. Jessica bisa mengerti. Jessica kemudian mulai melihat hal-hal yang aneh dan menyeramkan. Pertamanya ia merasa terteror. Sampai keesokan harinya ia mendapat dua pesan aneh sekaligus dalam medium berbeda. Dua pesan itu bertuliskan "TOLONG!". Hal itu membuat Reno menduga Jessica butuh terapi jiwa, tentu saja Jessica menolaknya dengan tambahan semakin banyak hantu anak perempuan kecil. Jessica bermimpi, ia melihat Mischa menangis dan menunjukkan bayi yang ada dalam kereta bayi, yang ternyata adalah ari-ari. Jessica kabur darinya, melihat sosok-sosok dokter dan suster berwajah menyeramkan, dan terbangun. Berbekal kata-kata dari seorang nenek yang bekerja di kantor Jessica, ia menerangkan bahwa Jessica sedang diberikan petunjuk untuk mencari tahu karena ia yang paling dipercaya. Jessica mulai tahu bahwa ia sedang diterangkan oleh anak Mischa yang belum sempat dilahirkan. Saat ia sampai di rumah, ia ditelepon oleh Reno yang berkata ia ingin menunjukkan sesuatu. Jessica tiba-tiba melihat sampel brosur sebuah produk krim kecantikan bernama Baby Face yang ia buat di komputer sebagai pekerjaan. Jessica sadar ia harus ke klinik tempat produksi krim itu. Disana, hantu anak Mischa datang, kali ini Jessica tidak takut dan berani bersamanya. Jessica dipegang mukanya oleh hantu itu dan Jessica melihat semuanya. Ternyata klinik aborsi itu menggunakan plasenta/ari-ari yang dikeluarkan dalam aborsi dan sarinya dijadikan krim kecantikan yang berkhasiat. Mischa juga tidak pernah meminta aborsi, namun dokter di dalam klinik itu membohonginya. Reno pergi ke klinik itu setelah ditelepon Jessica.
Mereka berdua masuk ke dalam. Reno lewat belakang secara rahasia, dan menemukan bagian klinik yang gelap, ia menyusuri jejak kaki anak kecil yang menuntunnya. Sementara itu, Jessica nekat berkata bahwa ia ingin mengaborsi kandungannya dan berbekal keberuntungan, ia berhasil masuk kesana. Untunglah Reno berhasil menemukan arsip Mischa, segera Jessica kabur saat sang suster tengah lengah. Reno dan Mischa mengulas beberapa arsip termasuk arsip Mischa yang Reno ambil. Reno juga menunjukkan foto plasenta kemasan dan kardus krim Baby Face. Jessica menerangkan bahwa plasenta digunakan untuk krim wajah. Arsip yang diulas, ternyata semua nama itu meninggal tak lama setelah aborsi.
Sekembalinya ke rumah, Jessica disekap oleh sang suster dan dokter kandungan. Ia dibawa ke sebuah pabrik Baby Face, disana diterangkan semua modus dan motif oleh sang dokter. Kemudian dokter itu mengambil ponsel Jessica dan menelepon Reno untuk menyuruhnya mengembalikan arsip yang ia curi dengan Jessica sebagai sandera. Reno datang ke pabrik itu, disana sang suster telah menghadang Reno dan terjadilah pertarungan sengit yang akhirnya dimenangkan Reno. Reno mematahkan pipa berisi gas dan menusukkannya ke tubuh sang suster. Dokter yang bersama Jessica, Jessica berubah menjadi Mischa dan membuat dokter itu kabur. Jessica kemudian berhasil lolos dan keluar dari pabrik. Sang dokter melihat susterna meninggal, ia lantas menusuk Reno. Tapi kemudian Reno mendorong jaruh dokter itu ke samping mayat suster yang melepaskan gas. Reno mengambil lilin dan melemparnya, membuat tubuh sang dokter terbakar dan hangus karena tambahan gas.
Film berakhir dengan Jessica yang menunggui Reno yang kemudian siuman. Lalu kita melihat para konsumen Baby Face yang "membawa" arwah anak yang plasentanya digunakan untuk pembuatan krim wajah tersebut.
Abang (Lukman Sardi) adalah penderita autism yang tinggal dengan ibunya yang memiliki kost-kostan. Salah satu anak kost adalah Leia (Prisia Nasution), satu-satunya yang bisa mengerti Abang. Abang jatuh cinta padanya sementara Bunda (ibu Abang) sangat cemas karena tahu hubungan yang diharapkan Abang tidak akan pernah terjadi. Kecemasan Bunda bertambah ketika Han, adik Abang, datang. Hubungan Leia dan Han pasti akan membuat Abang terluka.[1]
Senja (Asmirandah) bergabung dalam Klub Firasat, dimana setiap minggu para anggotanya berkumpul untuk berbagi cerita dan berbagai pertanda. Senja bergabung ke dalam klub itu karena ia selalu mendapat firasat setiap akan ditinggal oleh orang terdekatnya. Ini terjadi sebelum bapak dan adiknya meninggal dunia dalam kecelakaan. Alasan lain yang lebih kuat adalah pemimpin Klub Firasat yang bernama Panca (Dwi Sasono). Seorang lelaki kharismatik yang ketajaman intuisi dan pengalamannya soal mendalami firasat begitu mengagumkan. Senja jatuh cinta pada Panca. Hingga suatu saat ia mendapat firasat buruk bahwa seseorang akan meninggal.[1]
Di suatu malam, Taja (Yama Carlos), seorang pelukis muda yang masih lugu, bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan free-spirit yang jauh lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saras memberikan malam yang sangat berkesan saat itu. Tanpa direncanakan, mereka bertemu lagi. Kali ini mereka berusaha membangun pertemanan, meskipun akhirnya Taja tak kuasa untuk jatuh cinta pada Saras. Saras memutuskan untuk pergi, menghilang dari hidup Taja, dan meminta Taja untuk tidak mencarinya. Enam tahun kemudian, Taja yang sekarang telah menjadi pelukis terkenal bertemu Saras di pamerannya, namun Saras membawa kejutan yang menentukan hidup mereka berdua.[1]
Meskipun berbeda sifat, Amanda yang supel dan ceria mampu menjalin persahabatan dengan Reggie yang sabar, kalem, dan siap mendengarkan curhat Amanda kapanpun itu. Kapanpun Amanda butuhkan, Reggie selalu hadir. Suatu saat, Amanda jatuh sakit. Ia sadar bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa ia mintai tolong bahkan pacarnya. Hanya Reggie yang bisa menolongnya. Pertolongan Reggie membuat Amanda menyadari bahwa yang ia butuhkan selama ini hanyalah orang yang menyayangi dia apa adanya dan orang tersebut adalah Reggie. Namun di lain pihak, diam-diam Reggie mulai menyadari bahwa cinta ini sudah terlalu tua untuk dirinya.[1]
Lima orang backpackers bertemu lewat forum milis. Meskipun baru beberapa hari bertemu, Tano, Dali, Bayu dan Raga tampak sudah akrab bagaikan sahabat lama, amat kontras dengan Al yang selalu menyendiri dan menjaga jarak. Diam-diam, Al telah jatuh cinta pada Raga, sosok yang selama beberapa hari ini hanya mampu dikagumi dari kejauhan siluet punggungnya saja.
Di suatu malam, kelima orang ini mengadakan permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al semakin terpukul. Meskipun Al keluar sebagai pemenang, namun Al semakin terseret pada daya tarik Raga, lelaki yang mungkin tak akan pernah ia miliki selamanya karena sebuah rahasia besar dalam diri Raga.[1]
Lima orang muda-mudi dari Jakarta, Roby, Cecil, Tony, Tina, Donas, pergi liburan ke Bandung, tepatnya di sebuah villa di daerah Dago.
Tony mengingatkan Donas jika ia melihat cewek yang pake baju hitam jangan dilihat mukanya, soalnya nanti ceweknya bisa ikut. Donas tidak mengerti bahwa cewek yang dimaksud adalah hantu cewek yang sering berkeliaran di sekitar simpang Dago.
Ketika sungguh-sungguh berpapasan dengan seorang cewek berpakaian hitam, Donas lupa pesan Tony. Ia menyapa cewek itu hingga wajahnya kelihatan.
Donas menyombongkan diri di depan teman-temannya. Yang lain memberi selamat, kecuali Tony yang sudah mulai curiga. Apalagi, sewaktu makan Donas memperlihatkan kelakuan aneh.
Tidak ingin memperumit masalah, Tony memilih bungkam. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Teror hantu terjadi. Si cewek simpang Dago muncul dan membuat suasana liburan jadi mencekam. Cecil pingsan, Tina kesurupan. Roby bahkan tiba-tiba menghilang dari villa. Praktis, Tony hanya bisa mengandalkan Donas untuk membantunya.[1]
Di rumah, Tania (Wiwid Gunawan) adalah gadis tertutup yang hidup dalam tekanan sang ibu (Bella Espearance) yang membenci dirinya sejak kecil. Di kantor, Tania adalah gadis pemalu yang sibuk memendam perasaan cintanya yang menggebu-gebu pada Jordy (Framly Nainggolan), atasannya. Dia hanya bisa menggigit jari dan bermimpi saat rekan kerjanya, Grace (Kartika Putri), lebih berani mendekati Jordy. Hingga suatu hari, Janet (Nikita Mirzani), tetangganya, memberikan ide pada Tania agar menggunakan Tali Pocong Perawan untuk memikat Jordy. Tania nekad mengambil tali pocong itu dari lubang kubur seorang gadis perawan yang baru saja meninggal.[1]
Film diawali dari sebuah kampus. Tiba-tiba ada kegaduhan, ternyata seorang mahasiswi ditemukan gantung diri.
Scene berikutnya menceritakan mengenai dua kakak beradik, Nino (Ramon) dan Aldo (Ibnu Jamil). Nino adalah lelaki yang weird, berpenampilan agak aneh. Tidak seperti Aldo, kakaknya yang lebih modis dan supel. Tidak heran, mudah bagi Aldo untuk menggaet gadis yang diinginkannya. Termasuk gadis cantik bernama Virnie (Dewi Persik). Nino yang berperilaku aneh ternyata juga sangat menyukai Virnie. Nino seringkali mengintip mereka berdua di rumah. Hingga pada puncaknya, Nino memiliki niat untuk merebut Virnie dari kakaknya sendiri.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari internet, Nino menemukan teori "tali pocong perawan", dimana tali tersebut memiliki kekuatan untuk menarik hati seorang wanita. Cara mendapatkannya pun tidak biasa, harus menggali kubur sang perawan yang meninggal dengan tangan. Lalu, mengambil tali kain kafan dengan mulut.
Rasa cintanya Nino kepada Virnie membuat dia tidak dapat berfikir jernih lagi. Dicarinya perawan yang baru meninggal. Setelah mendapatkan tali pocong perawan, selanjutnya tali tersebut di rendam dan airnya akan diberikan kepada Virnie.
Namun upaya Nino gagal karena gelas yang berisi air rendaman tali pocong perawan tersebut tumpah. Kemudian Nino malah dikejar-kejar oleh pocong yang menginginkan kembalinya tali pocongnya. Pada akhirnya Nino tewas setelah jatuh dari lantai atas sebuah rumah sakit karena dikejar-kejar oleh sang pocong.Ketika sedang membereskan kamar Nino,Virnie menemukan foto tidak senonohnya yang selama ini disimpan oleh Nino.Virnie pun marah dan menangis,tetapi Aldo meminta Virnie memaafkan Nino.Kemudian mereka pun diteror oleh pocong.Mereka pun ketakutan dan bingung.Mereka mulai mencari jawaban.Virnie akhirnya mengetahui jawabannya setelah membaca blog milik Nino.Nino ingin membuat Virnie jatuh cinta kepadanya dengan mencuri tali pocong perawan.Mereka akhirnya menemukan jawabannya tetapi mereka masih diteror.Pada suatu malam, Aldo melihat pocong di rumahnya,Ia pun berlari ke kamar Nino.Virnie pun mengejarnya untuk menenangkan Aldo.Aldo akhirnya menemukan koran tentang gadis yang gantung diri di kampusnya.Gadis itu bernama Dinda.Ternyata, Aldo dan Dinda mempunyai hubungan pertemanan yang serasi dari SMP.Namun, Dinda memergoki Aldo berciuman dengan Virnie.Dinda marah dan menangis,Aldo akhirnya menjelaskan ke Dinda bahwa hubungan mereka hanya sebatas pertemanan saja.Dinda yang tidak terima,memutuskan gantung diri seperti yang terlihat di awal film.Kemudian,Nino mencuri tali pocongnya untuk merebut Virnie.Aldo pun menangis,dan tiba-tiba melihat pocong di belakang Virnie.Aldo pun ketakutan dan berlari ke atap rumahnya.Ia membawa seutas kabel untuk gantung diri .Sambil mengikatkan kabel ke lehernya,Aldo meminta maaf kepada Dinda atas kesalahannya selama ini.Roh Dinda pun ada di belakang Aldo.Namun saat akan melompat,Virnie mencegah Aldo dan mereka pun menangis. Aldo akhirnya batal gantung diri dan roh Dinda pun menghilang perlahan.Saat Aldo,Virnie,dan teman Virnie ada di rumah Aldo untuk menenangkan diri, pocong Dinda pun jatuh dari atas dan saat pocongnya membuka mata film pun berakhir.
Jauh di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen terlantar yang tak tertembus dan menjadi rumah aman bagi gangster, penjahat dan pembunuh yang paling berbahaya. Blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tak tersentuh oleh para rival gembong narkotik terkenal Tama Riyadi (Ray Sahetapy) dan bahkan perwira polisi paling berani sekalipun. Semuanya berubah ketika sebuah tim elit polisi berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu bangunan tersebut dan mengakhiri teror Tama untuk selamanya.
Di bawah kegelapan dan keheningan fajar, Rama (Iko Uwais), seorang calon ayah dan perwira polisi elit baru, dalam tim elit polisi yang dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim), tiba di blok apartemen Tama di bawah petunjuk Letnan Wahyu (Pierre Gruno). Setelah berpapasan dengan Gofar (Iang Darmawan) salah seorang penghuni apartemen yang membawa obat untuk istrinya yang sakit, mereka menerobos ke dalam gedung dan secara hati-hati mengamankan para penjahat penghuni gedung dengan dibungkam dan diikat. Mulai dari lantai dasar dan bergerak naik, mereka dengan terencana menyusup dalam blok apartemen sampai mereka mencapai lantai enam, tapi kemudian tim ini dilihat oleh seorang anak pengintai, yang lari untuk memberitahu temannya yang kedua sebelum dia ditembak dan terbunuh oleh peluru senapan serbu Letnan Wahyu. Peringatan tersebut mencapai Tama dan anak buahnya kepercayaannya, Mad Dog (Yayan Ruhian) lewat interkom.
Tama segera memanggil bala bantuan dan anak buahnya. Dua penembak runduk di gedung tetangga melumpuhkan anggota tim SWAT yang berada di lantai dasar. Mendengar jeritan mereka, seorang anggota tim elit lain melihat keluar dari jendela apartemen di lantai 5, dan segera tewas ditembak oleh penembak runduk. Tahanan mereka segera mengambil kesempatan dalam keributan tersebut - membunuh dua anggota polisi lain dan mendapatkan kontrol di lantai 5 kembali. Mobil pengangkut tim Polisi juga hancur dan pengemudinya tewas dalam serangan mendadak. Tama mematikan listrik di seluruh gedung dan mengumumkan bahwa terdapat "tamu tak diundang" sedang terjebak di lantai 6, dan bahwa dia akan memberikan sewa gratis kepada mereka yang membunuh penyusup-penyusup tersebut. Tim polisi Sersan Jaka melihat sebuah pintu akan terbuka, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk menyerang siapa pun yang di belakangnya, tapi ini merupakan jebakan karena anak buah Tama di lantai atas berhasil menggunakan cahaya dari tembakan untuk menyerbu tim Polisi, menembak mati banyak anggota tim elit. Sersan Jaka segera mengetahui bahwa misi tersebut ternyata tidak ditugaskan oleh Kepolisian, tetapi hanya oleh Letnan Wahyu, sehingga tidak akan ada bala bantuan yang akan tiba menyelamatkan mereka. Setelah baku tembak panjang, tim Polisi Jaka terdampar di lantai 6, kalah secara jumlah maupun amunisi dan sedang diburu oleh anak buah Tama yang beringas. Para anggota yang selamat dari serangan ini adalah: Sersan Jaka, Letnan Wahyu, Bowo (Tegar Satrya), Dagu (Eka Rahmadia) dan Rama. Setelah nyaris lolos dari ledakan bom improvisasi Rama yang membunuh sejumlah besar penjahat, mereka terbagi menjadi dua kelompok: Jaka, Wahyu dan Dagu di lantai 5 dan Rama dengan Bowo yang terluka mencari keselamatan di lantai 7.
Membopong Bowo yang terluka, Rama harus bertarung menerobos koridor lantai 7 dan tiba di apartemen 726 yang dihuni Gofar bersama istrinya, memohon tempat persembunyian dari kejaran anak buah Tama. Mereka bersembunyi di dalam sebuah lorong rahasia di balik dinding. Geng parang anak buah Tama dan pimpinan mereka (Alfridus Godfred) tiba dan memeriksa apartemen Gofar, bahkan menusuk dinding dan melukai pipi Rama, dan hampir menewaskan Bowo, tetapi mereka tidak menemukan mereka, dan akhirnya pergi. Setelah memberikan pertolongan pertama pada Bowo, Rama meninggalkan Bowo dalam perawatan Gofar untuk mencari jalan keluar. Dia harus kembali bertempur sengit dengan geng parang yang segera menemukannya setelah dia keluar dari persembunyiannya. Rama mengalahkan geng tersebut, namun kembali dikejar oleh anak buah Tama yang lain. Setelah menjatuhkan diri ke lantai 6 untuk meloloskan diri, Rama akhirnya ditangkap oleh Andi (Donny Alamsyah), tangan kanan dan otak bisnis narkoba Tama. Pada saat yang sama, Jaka berseteru dengan Wahyu setelah Wahyu menolak untuk mempertaruhkan nyawanya untuk mencari Rama dan Bowo, membuat Jaka marah dan mempertanyakan integritas kepolisian Wahyu di balik misi yang berakhir fatal tersebut. Beranjak dari persembunyian mereka, kelompoknya ditemukan oleh Mad Dog, tangan kanan Tama yang paling kejam dan brutal. Letnan Wahyu melarikan diri, dan Dagu diperintahkan Jaka untuk mengikutinya, tetapi Jaka, yang hanya memiliki pisau, harus beradu nyali dengan Mad Dog yang menodongkan pistol padanya. Mad Dog menyuruh Jaka masuk ke kamar di mana ia memutuskan untuk tidak membunuhnya dengan pistol namun menantang dia untuk berkelahi tangan kosong sebagai gantinya. Mad Dog akhirnya mengalahkan Jaka dan mengakhiri hidup Jaka dengan mematahkan lehernya. Sementara itu di apartemen Andi, Andi terungkap sebagai kakak Rama yang telah terasing yang memilih untuk meninggalkan keluarganya dan tidak meninggalkan jejak keberadaannya. Andi menolak untuk pulang ke keluarganya, namun berjanji untuk mengeluarkan Rama dari gedung maut tersebut setelah memastikan situasi aman. Tak dinyana, saat kembali untuk melapor pada Tama, Tama ternyata telah mengetahui pengkhianatan Andi karena kamera tersembunyi yang merekam Andi saat menyembunyikan Rama. Tama dengan marah menyerahkannya ke Mad Dog (yang sudah membenci Andi) untuk disingkirkan.
Rama bergabung kembali dengan Letnan Wahyu dan Dagu. Mereka memutuskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari gedung maut tersebut adalah dengan membekuk Tama dan menggunakannya sebagai tiket keluar mereka. Mereka bertiga kemudian bertempur dengan tangan kosong melalui laboratorium narkotika menuju ke markas besar Tama di lantai 15. Dalam perjalanan ke atas, Rama menemukan sebuah ruangan di mana Andi, tergantung pada rantai, sedang dipukuli oleh Mad Dog. Saat ia masuk, Mad Dog menurunkan rantai membiarkan Rama membebaskan Andi. Mereka berdua kemudian bertarung sengit bekerja sama melawan Mad Dog, tetapi kekuatan Mad Dog terlalu besar. Rama hampir dijemput ajal saat Mad Dog hendak mematahkan lehernya, namun digagalkan oleh Andi. Rama dan Andi akhirnya berhasil mengalahkan Mad Dog menggunakan sepotong pecahan dari tabung lampu neon. Sementara itu, Wahyu dan Dagu berhadapan dengan Tama, tetapi Wahyu malah tiba-tiba menembak dan membunuh Dagu, menyandera Tama sebagai tiket keluarnya dari gedung maut tersebut. Kemudian, Rama dan Andi berpapasan dengan mereka berdua di tangga, tapi Wahyu menembakkan peluru pada mereka, menyuruh mereka untuk tidak ikut campur. Tama menggertak Wahyu bahwa ia hanyalah seorang polisi kotor dalam sebuah satuan kepolisian yang secara keseluruhan telah sangat korup, di mana banyak perwira atas sudah dibayar oleh Tama. Tama juga mengungkapkan bahwa dia telah mengetahui misi maut tersebut dari atasan Wahyu, dan walaupun Wahyu berhasil lolos dari gedung tersebut, atasannya akan mengatur supaya Wahyu akan dibunuh atau ditangkap. Wahyu marah dan dengan kalap mengakhiri omongan Tama dengan menembak gembong penjahat tersebut di kepala. Wahyu yang putus asa berupaya bunuh diri dengan pistolnya, namun gagal karena ia kehabisan peluru dan ditangkap tanpa perlawanan oleh Rama. Andi yang sekarang berada di posisi menggantikan Tama, memberitakan bahwa situasi telah aman dan menyuruh penghuni apartemen untuk kembali ke kamar mereka masing- masing. Ia memberikan Rama sebuah kotak berisi informasi tentang daftar hitam polisi korup, memberitahu saudaranya bahwa tidak setiap polisi itu busuk, dan memberikan nama salah satu perwira kepolisian yang adalah orang yang baik untuk diberikan daftar hitam tersebut. Andi kemudian berjalan dengan Rama, Bowo dan Wahyu yang diikat keluar dari gedung, tapi menolak tawaran Rama bergabung dengan mereka. Andi kembali ke gedung sementara Rama berjalan ke luar gerbang, menuju masa depan yang tak pasti.
Pameran:
Iko Uwais sebagai Rama, anggota tim Polisi elit penyerbu dengan agenda tersembunyi, protagonis utama film.
Donny Alamsyah sebagai Andi, tangan kanan dan otak bisnis narkoba Tama dan juga kakak dari Rama
Pierre Gruno sebagai Letnan Wahyu, senior kepolisian yang memerintahkan operasi penyerbuan.